Tampilkan postingan dengan label renungan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label renungan. Tampilkan semua postingan

Kamis, 23 Januari 2014

Lamunan Di Saat Hujan

Aku suka hujan, mendengar gemericiknya menenangkanku. Merasakan sejuknya tetesan air yang menyentuh telapak tanganku. Menikmati suasana mendungnya yang menenangkan. Namun aku tak begitu suka angin yang berhembus di saat hujan. Dinginnya menusuk tulang. Alhamdulillaah ala kulli haal. Segala puji bagiNYA atas segala hal.

Hujan membawaku pada beberapa lamunan panjang. Aku teringat, salah satu waktu terbaik memanjatkan doa adalah disaat hujan turun. Doa kita insyaAllah akan lebih dikabulkan. Kadang aku bingung dengan permohonanku, mungkin karena terlalu banyak doa yang ingin aku panjatkan. 

Selalunya dia yang selalu muncul pertama kali dalam ingatan saat aku ingin berdoa. Dia, lelaki yang baru tujuh tahun ini telah menemani hari-hari indah dan melukiskan berjuta warna di hatiku. Lelaki yang selalu membuatku merasakan jatuh cinta, yang kini telah menjadi separuh nafasku. Semoga Allah selalu melimpahkan keberkahan, kesehatan, keselamatan, dan rizki terbaik untuknya.

Aku bersyukur karena Allah telah mempertemukanku dengannya. Seorang lelaki biasa yang sederhana, namun dia mampu membuat hidupku terasa sempurna. Darinya aku belajar banyak hal. Terutama tentang manhaj (cara memahami) agama, yaitu manhaj salafush shaalih. Kami belajar bersama, dan dengan penuh kesabaran dia mendidik dan membimbingku. Hingga kini aku dapat sedikit memahami agama ini dengan benar. Dia tak segan-segan mensupportku baik secara moril dan materil untuk mengikuti mahad atau mengikuti kajian ilmu syar'i. Ini merupakan hal yang sangat berharga yang tak ternilai. 

Alhamdulillaah pilihanku tepat dalam memilih qowwam. Dia baik dan penyayang. Aku pikir, bagaimana cara mama mendidiknya hingga dia tumbuh menjadi seorang lelaki yang berperangai dan berhati lembut seperti itu? Sayang, aku ngga bisa lagi berdiskusi dengan mama. Mama meninggal sekitar hampir tiga tahun lalu. Selama empat tahun menjadi menantunya, aku belum banyak berbakti. Kami juga belum banyak mengobrol, bercerita tentang anaknya yang telah menjadi suamiku. Padahal dari cerita mama aku dapat melihat sisi lain suamiku yang belum pernah aku ketahui sebelumnya. Aku suka menyimak cerita mama tentang suamiku itu. Rasanya ngga bosan meski telah mendengarnya berulang kali. Membicarakannya terus-menerus...hehe. Sekarang aku kehilangan teman bicara. Aku pun belum sempat mengucapkan "Jazaakillah khairan" untuk mama....karena sudah mendidik suamiku dengan baiknya.

Saat hujan....saat doa lebih mustajab. Semoga mama diterima amal ibadahnya oleh Allah. Ditempatkan di tempat terbaik di sisinya. 

Teringat pula ibu dan bapak...teriring doa "Rabbighfirlii wali waalidayya warhanhumaa kama robbayaani shaghiiraa..."




Minggu, 05 Januari 2014

Kecamuk Unek-Unek Sebelom Bobo

Beberapa hari terakhir ini aku makin sering kesulitan menutup mata. Sekedar tuk merehatkan segenap pikiranku.

Adakah yang salah? Niat yang menggerakkan aksiku. Strategi yang aku terapkan. Cara yang aku lakukan. Atau apa??? Apa yang salah???

Gomenasai...maafkan daku...jika ada diantara sahabat yang aku kecewakan, hiksss...sensi banget siy...

hadeuh...malah curcol.




Selasa, 26 November 2013

Tentang Sahabat

Setelah menuntut ilmu, belajar tentang TEORI ikhlas, sabar dan tawakal, serta teori-teori lainnya, maka Allah menyuguhkan  sebentuk ujian berupa masalah-masalah hidup agar kita terlatih dan dapat mengaplikasikannya pada kehidupan kita sehari-hari.

Jika ada yang membuatmu kesal, marah, sedih, galau, dan rasa-rasa lainnya... Ucapkanlah "TERIMAKASIH" karena mereka sudah membantu kita berlatih dan membuat materi pelajaran yang kita pelajari tak hanya jadi sekedar TEORI.

Meski mungkin, dalam setiap pembelajaran selalu ada resiko yang kita ambil. Entah berupa harta benda, waktu, bahkan perasaan kita sendiri. Ingatlah satu hal, bahwa tak pernah ada kesia-siaan dalam memperjuangkan ikhlas dan sabar. Terutama dalam proses "pembelajaran". Dan selalunya menahan amarah meski kita mampu dan memang "berhak" tuk marah, dengan alasan karena Allah, akan berbuah manis. 

Ambil pelajaran dari setiap peristiwa, hingga kita terhindar dari melakukan kesalahan yang sama. Jika ada yang menyakiti, keluarkanlah stok maaf dari hati. Namun jika disakiti beberapa kali oleh orang yang sama, pandanglah dia dengan rasa "kasihan", maafkanlah lagi, dengan catatan: hati-hati dan waspada jika bermuamalah dengannya.

Takkan terusik lautan luas karena lemparan batu seorang anak kecil


Untuk menyebut seseorang sebagai teman dan sahabat, memang membutuhkan waktu. Dan setiap ujian yang dilalui dapat membuat kita menyadari akan arti kehadiran satu sama lain dalam hidup masing-masing. Apakah hanya kenalan, teman, sahabat, atau lebih dari sekedar sahabat... Yang jelas, berteman dan bersahabatlah karena Allah, karena akan lebih kekal abadi. Dan kunci persahabatan yang menyenangkan adalah saling memahami dan menerima segala kekurangan dan kelebihan satu sama lain. Berawal dari ta'aruf (saling mengenal), tafahum (saling memahami), ta'awun (saling tolong menolong) dan tingkatan tertinggi adalah itsar (saling mendahulukan) saat kita tak lagi mementingkan diri sendiri.

Catatan sederhana ini kutulis sebagai nasihat bagi diriku sendiri, agar aku dapat mengambil pelajaran darinya...
27 November 2013
@Kaki bukit impian 
"aku akan selalu jadi sahabatmu, meski tak terlihat...."








Jumat, 13 September 2013

Bukan Ratu Biasa


Aku adalah seorang istri sekaligus Ratu rumah tangga. Daerah kekuasaanku melingkupi seluruh istana ini, sudut tamu, sudut tempat tidur, sudut dapur, sudut kamar mandi, sudut bengkel kreatifitas, dan termasuk teras serta tempat jemuran di luar sana. Tugasku membantu sang Baginda menjaga dan menciptakan istana yang sakinah mawaddah dan rahmah. Aku sangat menikmati peran ini sepenuh hatiku sejak sekitar 4 tahun lalu. Jiwa seorang manajer, konsultan keuangan, koki, pendidik, dan beberapa profesi penting lainnya yang ada dalam diriku sangat berguna dalam menjalankan roda pemerintahan di istana kami. Ya... IDENTITAS baruku kini adalah seorang RATU rumah tangga.

Menjadi seorang Ratu rumah tangga bukanlah hal yang mudah. Ada banyak tugas dan beragam proyek yang mesti dilakukan. Semua membutuhkan skill dan pengetahuan beragam ilmu. Sebuah profesi yang benar-benar tak dapat disepelekan dan dipandang sebelah mata. Memasak, menyetrika, mencuci baju dan piring, menyapu dan mengepel lantai, dan beragam pekerjaan rumah lainnya membutuhkan skill atau keterampilan yang baik. Jika tak terlatih untuk melakukan semuanya, dijamin anda akan keteteran, terjebak dalam sebuah rutinitas dan merasa stress dibuatnya.

Oleh karena itulah, meski kini aku seorang Ratu, aku tak pernah dapat melepaskan identitasku sebagai seorang PEMBELAJAR. Hidup yang telah dianugerahkan Allah Ta'ala kepada kita merupakan sekolah luar biasa yang tak bisa menerima permintaan libur dan bisa kita abaikan begitu saja sesukanya. Ini adalah SEKOLAH LUAR BIASA yang tak mengenal kata "BOLOS".

Agar tak terjebak dalam rutinitas, seorang Ratu dituntut untuk berpikir dan berbuat kreatif. Aktivitas sederhana yang dilakukan dengan senang hati dapat mengusir kebosanan. Karenanya sebisa mungkin kusisihkan sebagian waktu untuk melakukan aktivitas yang aku suka. Dan sekitar dua tahun terakhir ini aku sangat menikmati menjahit kaos flannel dan belajar merajut. Selain menjadi seorang Ratu, kini aku pun memiliki sebuah identitas lain, yaitu seorang CRAFTER.




Aku sangat menyukai kegiatan ini, membuat aneka macam kerajian dan kini tak hanya menikmati sendiri tapi juga menjualnya. Tentu saja ini menjadi kesibukan baru seorang Ratu. Mulai saat ini, manajemen waktu sangat diperlukan agar tugas utama Ratu tak terganggu dengan hobi dan jual-belinya. Eh ternyata lumayan loh penghasilan dari hobi ini. Tentunya Ratu senang sekali membantu perekonomian istana. Mungkin juga hobi baru ini bisa sukses dan jadi berkembang atas ijin dan ridha sang Raja.



Alhamdulillaah suamiku tercinta sangat mendukungku. Bukan hanya mengijinkanku tuk berkreasi dan bersabar dengan rumah yang terkadang masih berantakan, tapi beliau juga membantuku mengembangkan usaha. Aku diajarkan cara-cara online marketing yang sbelumnya aku hanya jual-beli suka-suka. Selain itu aku juga diajarkan tatacara mengelola keuangan perusahaan. Ciee..perusahaan? aamiin...insyaAllah mungkin suatu saat aku akan memiliki karyawanku sendiri. Dan jika ada pelatihan yang dapat menunjang keterampilanku, beliau tak segan-segan mensupport baik dengan dukungan maupun modal keuangan.. masyaAllah...baiknyaa...^^

Dan alhamdulillah, meski usahaku masih berjalan terseok-seok, aku sudah mendapatkan kepercayaan dari pelangganku di dunia maya. Terbukti dengan adanya repeated consumer dan jempol yang hampir mencapai 1000 pada fans pageku di Facebook. Aku rasa ini adalah prestasi yang membanggakan. Mendapatkan hingga 987 jempol bukan perkara yang mudah loh. Apalagi aku mendapatkannya dengan jujur, bukan hasil hack atau cara lain yang tidak benar.

Oya, beberapa hari kemarin, aku mendapatkan inbox tak disangka-sangka dari seseorang. Isinya undangan menjadi Guest Teacher di sebuah sekolah dasar di Bandung. Dia memintaku tuk mengajar keterampilan. Ya Allah...seneng banget rasanya bisa berbagi ilmu. Tak hanya itu, undangan ini menjadi sebuah nostalgia tersendiri untukku. Rasanya kangen banget berkecimpung di dunia pendidikan seperti dulu. Ya, lamaa sekali sebelum menjadi seorang ratu, aku adalah seorang pendidik. Dulu aku mengajar bahasa Inggris di sebuah SMA swasta di Tasikmalaya dan terakhir aku mengajar menjadi seorang walikelas di SD swasta di Cimahi. Aku suka sekali berinteraksi dengan murid-muridku. ah..banyak sekali kenangan saat menjadi guru. Andai tubuhku selalu fit, mungkin aku tak akan berhenti dari profesi mulia itu.



Hmm...rasanya menyenangkan...bahagia... aku sangat bersyukur dengan diriku saat ini. Aku, sebagai Ratu rumah tangga dengan Istana nyamanku, yang tak menjadi seorang istri biasa. Aku seorang istri yang juga seorang crafter...dan aku tak akan pernah melupakan identitasku sebagai seorang guru...

Kalau ada orang yang masih memandangku sebelah mata dengan mengatakan : "Oh, dia cuman ibu RT biasa yang kuper dan selalu di rumah". Maka aku akan mengabaikannya dan berlalu.. Karena aku lebih tau diriku sendiri, dan mereka belum mengenalku dengan baik...


13 September 2013
@Istana Maryam
"Jika ada seseorang berkata dan berpendapat negatif padamu, dengarkanlah sebagai introspeksi diri bukan sebagai sugesti...percayalah bahwa dirimu bisa lebih baik dari persangkaan orang lain. Maka berdoalah pada Allah agar Dia memberimu petunjuk dan kekuatan tuk menjadi seseorang yang lebih baik.."

Sabtu, 07 September 2013

Kaleidoskop Malam

Malam ini aku betul-betul tak mampu memejamkan mata. Entah apa yang menghalangi kantuk yang begitu kurindukan itu. Encokku yang sedang kambuh, ataukah telapak kakiku yang sedang sakit? Mungkin juga rasa kangen padamu yang mendera disela-sela malam yang berjelaga.

Kubuka laptop kesayanganku. Ada "Cinta Brontosaurus" yang belum habis ku tonton. Mungkin itu dapat menghantarkanku pada lelap seperti kemarin malam. Sia-sia, film bertema cinta itu makin membuatku terjaga. Apa kabarmu disana?

Blog walking mungkin dapat memberiku secercah inspirasi. Ku buka laman demi laman. Ternyata banyak kisah orang yang membuat pikiranku terbuka. Deritaku selama ini belum seberapa. Hahaha... aku berasa jadi generasi alay yang luar binasa.

Ingatanku terlempar pada dua tahun silam. Saat itu, awal April yang kering. Hatiku yang tengah berbunga, menantikan hadirnya cinta kedua. Cinta yang tumbuh dalam haru dan hanya dipenuhi rindu. Cinta kedua yang begitu memesona, menculik sukma hingga memenjara dalam bahagia. Dialah Syakirah (rahimahallaah) belahan jiwa. Kecantikan nan agung berbalut keajaiban... Anugerah Sang Maha Sempurna yang kehadirannya membuatku sempurna sebagai wanita.

Syakirah (rahimahallaah), ananda tercinta... melalui petualangan kita, selama sembilan bulan bersama, menegaskan kembali sebuah makna cinta. Membuat ummi sadar tentang arti kebahagiaan yang tertunda. Memacu ummi dan abi tuk menjadi seseorang yang lebih baik dan memantaskan diri tuk memasuki jannah-Nya.

Rasanya baru saja kemarin lusa, aku bermain boneka kertas seusai pulang sekolah dalam balutan seragam merah putih. Rasanya baru saja kemarin lusa, aku sibuk mengerjakan PR matematika. Rasanya baru kemarin lusa, aku jatuh cinta dan mengikat bahagia. Rasanya kemarin lusa, hadirnya cinta kedua. Tanpa terasa, hampir tujuh tahun tak lagi ada kata "aku" dan "kamu"...hanya ada "kita"....

Perjalananku di penghujung malam yang ditemani kaleidoskop sejarah petualangan hidup dan mimpi ini mesti berakhir. Ditutup dengan doa dan harap agar esok lebih baik. Disudahi dengan beberapa kuap yang membuat mataku berair. Dicukupkan dengan kalimat hamdalah yang terlampir dalam paragraf ini...."Alhamdulillaahi Rabbil 'aalamiin..."

Jumat, 06 September 2013

Mengukir Kenangan

Scene 1 : Reuni Tak Terduga.

"Hai Derrie...masih inget aku ngga? Apa kabar? Kamu di mana sekarang?", tiba-tiba seorang wanita yang berpenampilan agak sedikit menor menepuk bahuku dan memberondong banyak pertanyaan yang belum sempat aku jawab. Aku hanya mampu tersenyum sambil mengingat-ingat wajah yang ada dibalik topeng make-up tebal itu. Tanpa berniat tidak sopan, aku menatap wajahnya. Lalu aku sadar belum mengucapkan sepatah kata pun. "Baik...alhamdulillaah baik...", jawabku hampir setengah berbisik. Ah semoga aku belum terlalu terlambat untuk menjawabnya.

Ah, aku baru ingat sekarang. Dia Tessy, teman sekelasku saat kami berada di bangku Taman Kanak-Kanak. Ya... dia adalah Tessy yang cantik, centil, cerewet, dan sangat dominan di kalangan anak-anak. Tessy yang selalu banyak teman dan menjadi pusat perhatian juga sering membuat aksi-aksi tak terduga. Tessy yang pernah membuatku merasa rendah diri dan begitu malu dihadapan teman-teman. Aku sendiri tak begitu ingat kejadian sebenarnya. Yang jelas aku pernah menjadi bahan tertawaan teman-temanku saat Tessy berkata sesuatu tentang tubuhku yang saat itu lebih mirip Doraemon.

Seketika aku menarik diri dari reuni singkat dan tak terduga itu. Segera aku berpamitan dan mengucapkan selamat tinggal padanya dengan alasan aku sedang terburu-buru. Entah mengapa hatiku mendadak jadi tak menentu saat bertemu dengannya. Entahlah, aku tiba-tiba merasa kesal dan marah untuk sebuah alasan yang tak bisa aku ingat lagi.


Scene 2 : Telpon Pembunuh Cinta

Arrgghh... Pikiranku begitu kacau saat ini. Persiapan yang kurang matang, belum adanya sistem yang jelas dan pelanggan yang mulai berdatangan menjadikan aku orang yang paling tidak siap menjalankan bisnis online ini. Namun karena kebutuhan, aku terpaksa mempelajari bisnis online ini secara otodidak. Berbekal nekat dan bermodalkan uang yang mepet, dengan ucapan "Bismillaahirrahmaanirrahiim" dan niat baik, aku akhirnya menjalankan bisnis meski di awal terseok-seok. Sesekali aku terpaksa melayangkan sebuah pesan singkat pada seorang konsumen.

"Maaf Bu, request Ibu belum saya follow up lagi. Tapi insyaAllah pesanan Ibu on process.. 3-4 hari diusahakan sudah selesai. Maaf untuk keterlambatan ini". Message Sent.
Nokia jadulku berdering. Incoming call : Customer 13. Ah, itu Bu Zikha!!! Dia adalah salah seorang golden konsumenku yang sekitar tahun lalu pernah memesan barang daganganku secara online. Aku tak mengerti mengapa tubuhku tiba-tiba gemetar, aku seakan tak kuasa menahan jantungku yang seperti hendak loncat dari tempatnya.   

"Assalamu'alaikum...iya bu Zikha apa kabar?", ucapku memulai percakapan. Oh, dia mau memesan baju. kali ini untuk keponakannya katanya. "Maaf ibu, saya ngga bisa menerima permintaan ibu karena sedang banyak antrian", jawabku spontan. Meski bersikukuh beliau menyatakan bersedia mengantri, tapi entah mengapa aku tetap tak bisa menerimanya. Seingatku Bu Zikha pelanggan yang cukup baik, dia juga sering memberiku pembayaran lebih dari harga yang aku tentukan, sebagai tips katanya. Tapi aku tetap tak bisa menerima permintaannya. 

Setelah menelisik jauh dalam batinku, aku tau aku pernah kecewa dengan perkataannya. Entahlah, aku ragu karena aku sudah tak ingat lagi apa tepatnya yang dia katakan, namun seingatku saat itu perkataan Bu Zikha sangat melukai harga diriku. Dan aku tak merasa nyaman tuk kembali berinteraksi dengannya.


Scene 3 : Kisah Pilih Kasih

Kemarin aku terpaksa menelpon keempat anak-anakku tuk pulang. Abah mereka sakit keras. Mba Zarin, Mas Ragil, Parno dan si bungsu Kinara akhirnya pulang dan berkumpul ke rumah reyot ini. Keempat anak-anakku yang sangat aku banggakan. Mba Zarin, si sulung sudah menjadi PNS di Departemen Keuangan di kota Jakarta, menikah dengan seorang pengusaha kaya. Anak kedua ku, Mas Ragil sudah menjadi karyawan di perusahaan Korea di Surabaya, sudah berkeluarga dan memberiku dua cucu yang lucu-lucu. Si bungsu Kinara pun sudah mengembangkan sayap kecilnya, menjadi bidan di kota sebelah dan sedang menunggu pengangkatan menjadi PNS, dan dia sedang menanti lamaran seorang dokter muda. Dan... Parno, anak ketigaku. Parno yang tetap menjadi Parno. Dia sudah duluan berkeluarga sebelum kakak-kakaknya menikah. Dia menikah muda dengan seeorang gadis desa yang berpendidikan tak tinggi. Namun hingga lebih dari 8 tahun pernikahan mereka belum juga memberikan kami cucu. 

Ketiga anak-anakku tinggal di luar kota, jadi hanya tiap beberapa bulan saja mereka pulang. Apalagi Mba Zarin dan Mas Ragil, mereka sangat sibuk dan hampir hanya setahun sekali saja pulang menemui kami, emak dan Abahnya. Kalau mudik, mereka pasti banyak membawa bingkisan, oleh-oleh, dan uang yang banyak untuk kami. Sesekali juga kami diajak jalan-jalan berekreasi naik mobil mereka. Syukur alhamdulillah Gusti Allah sudah mengkaruniai kami anak-anak yang baik dan sukses.

Di antara ke empat anak-anakku,  hanya Parno yang masih tetap tinggal di satu desa dengan kami. Parno dan istrinya memang sering berkunjung. Tapi kunjungannya sebentar-sebentar saja, tak pernah lama apalagi menginap. Parno itu berbeda dengan saudaranya yang lain. Sejak kecil, Parno sering tak menurut pada orangtua. Abahnya menganggap Parno itu berjiwa pemberontak. Entah apa yang ada dalam pikirannya. Kuliah semaunya, menikah semaunya, sekarang bekerja pun penghasilannya hanya cukup untuk hidup. Parno terlalu rumit dengan prinsip-prinsip idealismenya.Terkungkung dalam aturan-aturan yang katanya ngga boleh bertentangan dengan aturan agama. Mulai dari penampilan celana cingkrangnya yang ngga mantes, jenggotnya yang dibiarkan panjang, hingga masalah pekerjaan. Dia lebih memilih menjadi wirausahawan yang lebih aku pandang sebagai tukang kredit barang, dari pada menerima tawaran Pak Dhe'nya untuk bekerja di Bank sesuai dengan ijasahnya Sarjana Ekonomi Manajemen.

Banyak hal yang berbeda yang membuat Parno dan kami orangtuanya menjadi tidak dekat secara emosional. Bahkan sudah lama sekali, aku tak ingat kapan Parno mengobrol intim dengan Abah dan Emaknya ini. Curhat dari hati ke hati seperti yang dilakukan anak-anakku yang lain. Dia anakku yang dekat di mata namun terasa jauh di hati. Mungkin hatiku dan hati Abah belum bisa merengkuh dan memahaminya. Setiap kali mencoba membuka dialog diskusi panjang lebar, Abah sering tak bersesuaian dengan Parno. Mereka bagaikan sepasang garis kembar tak berujung yang ujung-ujungnya tak pernah bertemu atau saling bersilangan. Mungkin itu yang membuat Parno enggan berlama-lama duduk di kursi teras rumah kami, atau bahkan enggan menginap di kamar rumah kami yang kosong ini.

Tapi...dibalik sikapnya yang musykil dari anak-anak lain, Parno itu anak yang baik dan bakti pada orangtua. Tak dipungkiri, dia lebih banyak memberi pada kami. Setiap Minggu seringkali istrinya mengantarkan aneka kudapan, singkong rebus, ubi atau jagung rebus. Tak jarang pula mereka datang tanpa membawa apapun selain senyum yang terkembang. Kalau Abah sakit masuk angin, Parno datang memijit dan kerok punggung Abah. Kalau Emak butuh beli bawang atau bumbu-bumbu, Parno tak sungkan membelikan ke warung. 

Itulah Parno, anakku yang unik. Entah apa yang membuatmu begitu jauh dari sisi hati kami nak. Apapun yang mungkin pernah Emak dan Abah ucapkan, atau lakukan padamu yang membuatmu merasa tak ingin singgah berlama-lama di rumah ini...Emak dan Abah mohon maaf.


***********

Kita mungkin pernah merasa tidak nyaman dengan kehadiran atau saat bertemu dengan seseorang, karena pernah mengalami  sebuah insiden dengannya. Padahal kita sendiri sudah tak ingat lagi detil kejadian tersebut.

Mungkin benar adanya sebuah ungkapan: 
"People won't remember what you said, but they will remember how you make them feel..."

Namun apapun yang telah kita alami, pahit manisnya biarkanlah menjadi bagian dari masa lalu. Maafkanlah semua dan lanjutkan kehidupanmu dengan lebih bahagia. Petiklah sebuah hikmah, bahwa kita pun ingin mengukir kenangan manis dalam hidup seseorang. Bukan kenangan abstrak yang membuat hati tidak nyaman.


7 September 2013
@Istana Maryam
"Dendam dan rasa kesal, bagaikan kerikil kecil yang kau masukkan dalam ransel di sepanjang jalan hidupmu. Semakin hari kerikil itu semakin banyak dan membuat berat punggungmu. Hingga suatu saat kau tersadar bahwa kau tak mampu meloncati sebuah anak tangga menuju kesuksesan dengan beban ranselmu yang berat."


Berpura-pura

Rasa kehilangan itu masih terasa. Rasa takut tak bisa kupungkiri, ada. Kecewa dan sedih, mungkin masih menjejak. Yang penting perjuangan sabar dan ikhlas masih selalu bergejolak dalam jiwa. Rasa syukur kutanamkan baik-baik dalam hati, agar kelak keyakinan akan qadha dan qadarNYA berbuah manis seperti yang tak pernah kusangka.

Wahai....
Aku ini hanya perempuan biasa. Seorang manusia alpa pembiasaan... Yang mencoba berpura-pura kuat, yang mencoba berpura-pura tegar, yang mencoba berpura-pura ikhlas, yang mencoba berpura-pura sabar, yang mencoba berpura-pura ceria dalam setiap kondisi, meski yang terpahit sekalipun?

Mungkin ini sekedar kamuflase. Aku sendiri tak yakin. Hanya memang aku berpura-pura kuat, berpura-pura tegar, berpura-pura ikhlas, berpura-pura sabar, berpura-pura ceria. Sekuat tenagaku! Semampuku! Aku berpura-pura..

Wahai....
Aku ini hanya perempuan biasa. Seorang manusia alpa pembiasaan... Aku harap aku bisa terus berpura-pura kuat, teruus berpura-pura tegar, teruuus berpura-pura ikhlas, teruuuus berpura-pura sabar, teruuuuus berpura-pura ceria dalam setiap kondisi, meski yang terpahit sekalipun.

Mungkin karena aku seorang manusia alpa pembiasaan... yang mesti melakukan banyak pengulangan. Mengulang berpura-pura KUAT. Mengulang berpura-pura TEGAR. Mengulang berpura-pura IKHLAS. Mengulang berpura-pura SABAR. Mengulang berpura-pura CERIA dalam setiap kondisi, meski yang terpahit sekalipun.

Wahai....
Aku hanya perempuan biasa yang sering alpa. Terkadang aku lalai, seringkali aku butuh diingatkan tuk kembali berpura-pura KUAT, kembali berpura-pura TEGAR, kembali berpura-pura IKHLAS, kembali berpura-pura SABAR, kembali berpura-pura CERIA dalam setiap kondisi, meski terpahit sekalipun.

Mungkin saatnya nanti, setelah mencoba, melakukannya teruuuusss, lalu mengulang kembali dan menjadikannya pembiasaan, kuharap kelak dapat kutanggalkan semua kepura-puraan itu, hingga aku dapat menjadi seorang perempuan yang benar-benar KUAT, benar-benar TEGAR, benar-benar IIKLAS, benar-benar SABAR, benar-benar CERIA dalam setiap kondisi, meski terpahit sekalipun..

Saat semua itu terprogram otomatis dalam hati dan jiwaku, tak mustahil kelak aku dapat betul-betul menjadi seorang perempuan biasa yang KUAT, TEGAR, IKHLAS, SABAR, CERIA dalam setiap kondisi...Karena aku seorang manusia pembiasaan....


24 Juli 2013 @Pondok Cipta Mas,
"Saat ujian-NYA memaksa kita tuk terus belajar, hingga pikiran merasa tak sanggup...maka berpura-puralah kita mampu melakukannya.." {quotes yang anneeh..egepe ah! }