Jumat, 01 Agustus 2014

Mudah dan Lezat: Pasta Aglio e'Olio

Hai sahabat tercinta, udah lama aku ngga nulis di blog ini ya? Ada yang kangen kah? Sejak bulan April lalu, aku pindah rumah dan sejak saat itu banyak hal yang terjadi. Mulai dari kesehatan yang kurang baik, jaringan internet yg kurang oke hingga penyakit "kanker" (kantung kering) yang mendera sampe kemaren mesti jual modem dulu..hehehe, alhamdulillaah kmaren dapet tehaer bisa beli lg yg baru. Semua hal itu membuatku ngga bisa eksis di dunia persilatan ini...wakakaka..berasa memerankan tokoh Bibi Lung di film "Return of the Kolor Heroes" :P

Oya sahabat semua, aku mu ucapin Taqabbalallaahu minna wa minkum, semoga amal ibadah ramadhan kita diterima Allah Ta'ala. aamiin. Aku mu mohon maaf juga pada sahabat semua jika ada kesalahan kekhilafan...mohon dimaafkan yaaaa....

Mu cerita dikit nih, abis Lebaran kemaren kayaknya kehidupan di dapurku belum beranjak normal. Di tempatku tinggal belum banyak warung sayur yang buka. Sulit mau masak dan menyediakan makanan. Untuk membeli sayuran aku mesti minta antar suamiku pergi ke pasar tradisional terdekat. Ternyata harga-harga di pasar lebih unggul dibandingkan dengan harga di warung kesayanganku. Tapi apa boleh buat, selama ibu warungnya mudik, aku mesti bersabar...hehe.

Namun hari ini suamiku ngga ada di rumah. Dia sudah janji mau ketemu teman lamanya. Jadi aku ngga bisa masak sesukaku. Di dapur hanya ada sisa pasta spageti, sekuntum brokoli dan tiga buah jagung semi. Bumbunya pun hanya ada bawang putih, sepotong rawit dan sebuah cabai merah yang sudah layu...hehe. Voillaa....jadi juga semangkuk spageti Aglio e'Olio mirip dengan masakan chef di drama Korea "Pasta" yang pernah aku tonton. Bahagiaaanyyyaaaa...

Ini penampakan pasta-ku...



Biar ngga penasaran, aku tuliskan lagi resepnya yaaa....

Bahan:
100 gr Spageti direbus dengan sejumput garam dan 1 sdm minyak, jika sudah empuk, tiriskan.
1 kuntum brokoli, potong-potong
3 buah jagung semi kecil, iris menyerong

Bumbu:
3 siung bawang putih cincang halus
1/2 cabai rawit (karena aku sedang menghindari rasa pedas)
1 buah cabai merah tanjung (yang rasanya ngga pedas)
garam dan merica secukupnya
sedikit parutan keju chedar (sisa bikin kue lebaran..hehehe)

Caranya:
- Tumis bawang putih, cabe rabit dan cabe merah.
- Masukkan irisan jagung semi, aduk rata.
- Masukkan brokoli, lalu taburi sedikit garam.
- Masukkan spageti, aduk rata
- Taburi garam dan merica, aduk rata.
- Tambahkan sedikit keju parut. Aduk kembali.
- Note: jika masakan terlalu kering, tambahan sedikit air masak.
- jika sudah matang, tuangkan spageti ke atas mangkuk atau piring dan taburi lagi dengan keju parut di atasnya.

Mudah kan? Selamat mencoba ya sahabat....^^

@Bukit Kasih Sayang.
miss u all






Senin, 12 Mei 2014

Seribu Satu Wajah Cinta

SATU


426. Kulihat angka itu sekali lagi saat meninggalkan apotik. Pantas saja kepalaku sering pusing dan badanku sedikit melemah. Indeks gula darahku masih terlampau tinggi, jauh dari skala normal; 140 mg/dl. Ingin rasanya aku menangis, tapi untuk apa? Tak ada gunanya, itu hanya akan membuatku semakin merasa terpuruk. Terlebih lagi, rasa sedihku ini tak dapat lagi kunikmati seorang diri, sejak lelaki itu mengikrarkan janjinya tuk menjadi qawwamku hampir delapan tahun silam. Dengan seluruh beban yang diembannya, permasalahan dan tantangan yang dihadapinya, aku tak ingin menambah satu kesedihan bertengger di hatinya. Karena itulah aku harus kuat. Untuk diriku, dan dirinya.

Namun hati manusia itu terlampau lemah, aku sering tak dapat berdamai dengan perasaanku sendiri. Ingin rasanya berteriak, "God...why me?". Kenapa mesti aku? Ketika dokter mengabarkan aku menderita diabetes gestasional ini, saat itu aku masih berusia 29 tahun dan sedang hamil anak kedua. Anak yang selalu kami nantikan kehadirannya, namun segera kembali ke pangkuan Rabbnya sebelum aku menatap dan menyentuhnya. Aku selalu berpikir, diabetes itu hadir di usia senja, penyakit warisan keluarga, atau hinggap pada mereka yang memiliki berat badan berlebih. Dan aku bukanlah salah satu di antara ketiganya.

Hatiku mengutuk dan membenci penyakit ini. Penyakit yang juga menyerang ibu mertuaku hingga akhirnya meninggal. Penyakit yang membuatku mesti bersahabat dengan jarum suntik dan insulin, dan mungkin juga yang menjadi penyebab anakku meninggal sebelum dia terlahir ke dunia ini. Aku menyalahkan diabetes untuk hal-hal manis yang terrenggut dari hidupku.

Namun saat memikirkan semuanya, hatiku bergetar... bulu kudukku merinding dahsyat. Aku tiba-tiba takut ketika beberapa tanya melintas dalam benakku. "Pada siapa aku marah? Pada siapa aku benci? Bukankah Allah yang memiliki semua ijin atas segala musibah untuk menguji hamba-hambaNYA?"

Astaghfirullaahal adziim, sesungguhnya kita milikNYA dan akan kembali padaNYA. Jika sakit itu datang, tentulah dengan kehendak Allah. Tugas kita hanya bersabar dan berikhtiar menyembuhkannya. Mungkin tak akan mudah melakukannya, namun aku mulai mencoba menerima kehadiran penyakit yang kataya pembunuh ranking ke-sekian setelah jantung dan stroke itu sebagai sahabat terbaik yang selalu mengingatkanku untuk hidup sehat.

Sabar dan ikhlas itu sebuah perjalanan, petualangan...sesuatu yang harus diperjuangkan. Aku terus mencoba menggali hikmah. Dalam beberapa kisah hidupku yang tak manis ini, ada banyak hal yang cukup membuatku tersenyum...


To be continued to Part : Dua








Nasihat untukku...

Janganlah khawatirkan rezekimu, karena Alloh sudah menjaminnya untuk semua yg hidup… Tapi khawatirkan amalanmu, karena Alloh tidak menjamin Anda masuk surga.

Simaklah dg seksama uraian indah Ibnul Qayyim -rohimahulloh- berikut ini:
“Fokuskanlah pikiranmu untuk memikirkan apapun yang diperintahkan Alloh kepadamu. Jangan menyibukkannya dengan rezeki yang sudah dijamin untukmu. Karena rezeki dan ajal adalah dua hal yang sudah dijamin, selama masih ada sisa ajal, rezeki pasti datang. Jika Alloh -dengan hikmahNya- berkehendak menutup salah satu jalan rezekimu, Dia pasti -dengan rahmatNya- membuka jalan lain yang lebih bermanfaat bagimu.

Renungkanlah keadaan janin, makanan datang kepadanya, berupa darah dari satu jalan, yaitu pusar.
Lalu ketika dia keluar dari perut ibunya dan terputus jalan rezeki itu, Alloh membuka untuknya dua jalan rezeki yang lain [yakni dua puting susu ibunya], dan Alloh mengalirkan untuknya di dua jalan itu; rezeki yang lebih baik dan lebih lezat dari rezeki yang pertama, itulah rezeki susu murni yang lezat.

Lalu ketika masa menyusui habis, dan terputus dua jalan rezeki itu dengan sapihan, Alloh membuka empat jalan rezeki lain yang lebih sempurna dari yang sebelumnya; yaitu dua makanan dan dua minuman. Dua makanan = dari hewan dan tumbuhan. Dan dua minuman = dari air dan susu serta segala manfaat dan kelezatan yang ditambahkan kepadanya.

Lalu ketika dia meninggal, terputuslah empat jalan rezeki ini, Namun Alloh -subhanahu- wata'ala membuka baginya -jika dia hamba yang beruntung- delapan jalan rezeki, itulah pintu-pintu surga yg berjumlah delapan, dia boleh masuk surga dari mana saja dia kehendaki.

Dan begitulah Rabb -subhanahu-,wa Ta'ala, Dia tidak menghalangi hamba-Nya untuk mendapatkan sesuatu, kecuali Dia berikan sesuatu yang lebih afdhol dan lebih bermanfaat baginya. Dan itu tidak diberikan kepada selain orang mukmin, karenanya Dia menghalanginya dari bagian yang rendahan dan murah, dan Dia tidak rela hal tersebut untuknya, untuk memberinya bagian yang mulia dan berharga”.

[Kitab Al-Fawaid, hal: 57]
~ via Ahsan TV

Dear, hati... renungkanlah...Astaghfirullaahal adziim...





Di Bawah Titik Nol

Ah...sudah lebih dari sebulan aku ngga bisa online. Pertama karena sinyal, kemudian ngga bisa isi pulsa lagi..hehehe. Kenyataan hidup memang terkadang pahit. Absen dari semua media, kayaknya. Qadarullah HP juga ngga bisa maksimal menjembatani aku dan orang-orang. Pertama hatiku sedih, selanjutnya...lebih sedih..hehe, aku hanya bisa menertawakan kesedihanku yang sangat menyedihkan. Kini aku lebih seperti pemburu wifi free hot spot agar bisa sekedar online. "sekedar"? rasanya internet adalah duniaku. aku bisa belajar, aku bisa terinspirasi, dan menghibur diri dengan internet dan laptop jadulku.

Aku ngga suka sendiri, tapi aku ngga bisa mencarimu tuk mengajakmu duduk menemaniku, mendengar keluh kesahku. Aku tak mau menyeretmu dalam kesedihan yang sedang menyapaku. Apa aku egois? mengiginkan pengertianmu, mengharap perhatianmu tanpa aku minta? tanpa aku sebut? ternyata memang aku mungkin hanya sekedar musafir yang lewat di hidupmu. sebentar pun kan kau lupakan, kawan.

Betul mungkin apa yang dikatakan lelaki tua itu, "tak ada persahabatan abadi, yang ada hanyalah kepentingan yang abadi...". Mungkin dulu aku terlalu naif tuk membantahnya. Aku selalu optimis persahabatan itu ada yang abadi. Tapi saat aku sedang jatuh terperosok jauh di bawah titik nol, tak ada satu pun yang mencariku. seakan aku tak pernah memiliki tempat layak di hati mu. Suara-suara dalam hatiku mulai memberontak, protes akan kebodohanku. Mereka mulai menghitung "jasa". Astaghfirullaaahhh...tidak..!!! sungguh aku tak ingin membiarkan titik itu menjadi jelaga yang membuat jarakku dengan sang ikhlas semakin lebar membentang.

Rabb... please help... aku tak bisa mengenyahkannya ini seorang diri. Mendung itu kian bergelayut di setiap sudut. Dan aku makin sulit merangkak mencapai titik nol itu.

aku lelah, merasa kalah...
terasa sepi, saat melihat kenyataan bahwa kini aku sendiri.
saat ingin bangkit, aku tak yakin memiliki alasan yang cukup tuk melakukannya.

11 Mei 2014@Bukit Kasih Sayang
Saat merasa sendiri

Kamis, 20 Maret 2014

Ah....

Baru kali ini aku merasa serba salah
Saat kau berada di sisi yang berlawanan arah
Menyisakan hatiku yang kini resah
Seakan terbelenggu oleh gundah

Apa gerangan yang membuatmu tampak lelah?
Apa yang terjadi, hingga kau seperti menahan amarah?
Teka-teki apa yang membuat dirimu susah?
Biasanya ronamu ceria, murung pun hampir tak pernah

Aku tau jalan kita tak pernah mudah
Kisah hidup kita kadang tak begitu indah
Namun akankah kita begitu saja menyerah?
Tanpa perjuangan, tanpa memungut hikmah?

Mari kita kuatkan lagi bila niat baik itu melemah
Mari eratkan lagi ikatan hati kita jika sudah mulai goyah
Mari selaraskan kembali irama dan langkah
Jangan biarkan ego dan emosi membuat kita kalah

..............

19 Maret 2014 @ Kaki Bukit Impian




Selasa, 04 Maret 2014

Tom Yum Iga Sapi ala Maryam

Pertama kali aku makan tom yum ituuu...di hajatan pernikahan ponakannya suami. Saat itu aku gak ngerti makanan macam apa Tom Yum itu, lantas karena penasaran, aku ikut mengantri di barisan yang sudah memanjang. Alhamdulillah dapet juga semangkuk sup hangat bernama Tom Yum itu. Aneh, itu kata-kata pertamaku setelah mencicipi sup yang rasanya asin agak-agak asam dan pedas. Tapi setelah agak lama diicip-icip, rasanya enak juga. Potongan udang, cumi, bakso ikan, jamur, dan beberapa sayuran yg gak aku ingat, bikin aku semangat makan. Pengen nambah lagi, tapi males ngantrinya...hehe.

Itulah pengalamanku makan Tom Yum untuk pertama kalinya, sekitar 6 tahun yang lalu...

Sejak hajatan ponakan suamiku itu, aku makin penasaran sama sop Tom Yum. Hampir kesana-kemari aku cari makanan ini, memang jarang banget ditemukan. Apakah karena dia makanan khas negeri tetangga (Thailand), jadi terkenalnya di Thailand aja? Pernah aku diajak ke sebuah resto cafe di daerah Bandung, ada menu sop Tom Yum ini, akan tetapi....rasanya beda jauuuhhhh....dari sop Tom Yum yang pertama aku makan itu. Huwaaa....rasa kangenku sama Tom Yum ini makin menjadi saja.

Suamiku bilang, "Kenapa Miw ngga coba buat aja sendiri sop Tom Yum nya?"
"Jiaah, ummi gak tau cara n bahan-bahannya...Biw", kilahku. Padahal males juga, coz enaknya langsung makan aja, hehehe. Dasar istri pamalesan!!! Jangan ditiru yah.

Tapi berhubung penasaraaaaaan banget, dan memang pengeeeeeeeennn banget, akhirnya aku gugling juga cari resep Tom Yum ini. Alhamdulillah dapet video di Mbak YuTub, resep asli dari chef asli Thailand. Dia bikin chicken Tom Yum dengan kuah bening. Nah loh, sop Tum Yum yang aku icip 6 tahun lalu itu, kuahnya coklat kemerahan. rasanya sama ngga yaaa??? hiks...ta coba dlu deh. Paling merah itu dari cabe kan? Tinggal dimodifikasi aja dikit dah. Jiah, apa kalo udah dimodif namanya masih Tom Yum yah?

Chicken Tom Yum, buatan Chef Da Thailand

Aku tadi belanja ke warung buat bikin sop ini tapi sayang banyak yang ngga ada...euy. Kalo gitu aku bikin sop Tom Yum seadanya aja, ala Maryam...hahaha...sakarepku dah! Gasah protes ya, dapur, dapur gua, yg belanja gua, yang masak gua, yang makan gua...suka-suka gua aja dah...

Berdasarkan resep dari Chef Da, bahan yang dibutuhkan untuk bikin Chicken Tom Yum adalah:
  • Tentu saja ayam, karena gak ada, aku ganti sama daging iga beserta tetelannya
  • Jamur, aku pakai jamur merang aja
Bumbunya itu yang banyak, diantaranya:
  • Lemongrass or serai, 2 gagang cukup dah, dikeprek aja
  • Daun jeruk, sekitar 5-7 lembar
  • Laos, sekitar 3cm diiris
  • Jeruk Lemon, satu buah yang besar (ngga ada euy, apa ganti pake asem jawa yah?)
  • Cabe rawit, sesuka hati
  • Tomat, 1 buah
  • Bawang Bombay, 1 buah
  • Cilantro itu daun ketumbar ya? ngga ada, nanti aku ganti seledri aja kali yah?
  • Daun bawang, dua kuntum cukup kali yah?
  • Paprika, ngga ada...aku ganti cabe merah ulek aja 3 buah
  • Saus ikan, aku skip. males nyari
  • Cuka (kalo nanti keasinan), ngga punya...diusahakan ngga keasinan.
Saat lihat dia bikin sup ini, aku gak lihat dia pakai garam...apa saus ikan udah cukup asin? kayaknya aku akan pakai garam saja.

Caranya:
Rebus air kaldu (kalo ngga ada kaldu, kata Chef Da, boleh pakai air biasa. Lalu masukkan serai, daun jeruk dan laos sampai wangi dan mendidih. Lalu masukkan daging. Setelah mendidih lagi, masukkan cabe rawit tumbuk sedikit-sedikit aja, lalu cicipi dulu, kalo gak suka terlalu pedes, kasih cabe rawit tumbuknya dikit aja. Lalu masukkan perasan jeruk Nipis, dua setengah sendok saus ikan, jamur, paprika, kemudian bawang bombay. Tomat Bawang daun dan cilantro dimasukin paling belakangan biar ngga terlalu layu.

Okeh, sip....kalo aku ini hasilnya

Tom Yum Iga Sapi

Kata Chef Da, boleh pakai susu atau santan kuahnya, aku ngga pakai. Rasanya udah pas, tapi keaseman kayaknya...hiksss....Jeruk lemonnya cukup setengah buah aja...

Selamat makaaannn...!!!! Jangan lupa baca bismillaah dulu yah.


@Drim Hill, 5 Maret 2014
“Ya Allah, perbaikilah agamaku untukku yang ia merupakan benteng pelindung bagi urusanku. Dan perbaikilah duniaku untukku, yang ia menjadi tempat hidupku. Serta perbaikilah akhiratku yang ia menjadi tempat kembaliku. Jadikanlah kehidupan ini sebagai tambahan bagiku dalam setiap kebaikan, serta jadikanlah kematian sebagai kebebasan bagiku dari segala kejahatan.” (HR. Muslim no. 2720 dari Abu Hurairah)




Jumat, 28 Februari 2014

What a Wonderful Wife

Beberapa waktu ini aku sedang dilanda badai kegalauan. Halah, kalimat pertama udah galau aje. Ya udah, untuk mengusir si galau, aku jalan-jalan aja ke beberapa grup di FB, dan blog walking di beberapa laman craft dan rajutan. Kalo di FB, aku lagi suka nengokin grup Kumpulan Emak-emak Bloger (KEB) yang sekarang lagi heboohh pemilihan "Srikandi Blogger". Entahlah, padahal aku masih tergolong orang baru di sana, tapi grupnya asyik banget. Orang-orangnya juga welcome. Yang penting, aku sangat banyak terinspirasi oleh para emak-emak yang hobinya finger dancing on keyboard itu.

Eh ternyata ada banyak Give Away yang berseliweran. Salah satunya diadakan oleh salah satu emak yang juga finalis Srikandi Blogger, mba Ida Nur Laela. Setelah membaca linknya, ternyata temanya adalah "Wonderful Wife". Menarik sekali pikirku. Jadi pengen nanya sama suamiku, apa aku udah jadi wonderful wife buat dia? Akhirnya aku bertanya juga.

"Biw...ummiw udah jadi wonderful wife buat abiw apa belom?", tanyaku.
Yang ditanya cuman melirik pandang padaku beberapa detik sambil senyum, lalu nguplek lagi sama leptopnya.
"Abiiiiiiwwww, kayak gimana menurut abiw wonderful wife itu?", tanyaku lagi dengan nada agak tinggi.
Kali ini dia membetulkan posisi duduknya, memalingkan wajahnya dari layar laptop, lalu menjawab panjang kali lebar kali tinggi.

Jiaaaahhh... Ternyata buanyaaak banget yak, karakteristik wonderful wife itu. Dan dari yang abiw paparkan, masih banyak yang belom nempel di diriku ini. Tapi aku ngga nyesel udah nanya sama Abiw karena banyak sekali pembelajaran dari penjelasannya. Dan aku jadi tau karakteristik mana yang suamiku suka dan sifatku yang mana yang dia ingin aku memperbaikinya.

Tapi dari diskusi kami malam itu, ada tiga hal penting yang aku petik. Dan yang pertama dan paling utama, sifat yang mesti dimiliki seorang istri adalah CERDAS. Aku sepakat dengan suamiku tentang hal ini. Cerdas di sini bukan berarti istri mesti bergelar sarjana dan punya IPK cumlaude atau punya IQ tinggi. Tapi cerdas itu adalah orang yang tau tujuan hidupnya. Sebagai seorang muslim, tentu tujuan hidup kita adalah mencapai JannahNYA dengan mencari ridha Allah. Wonderful wife mesti tau cara memahami agama yang benar dan menerapkannya dalam kehidupan rumah tangganya. Sebagai Ratu di dalam rumahnya, dia bertanggung jawab terhadap pendidikan anak-anaknya, serta saling mengingatkan dalam ketaatan dan taqwa kepada Allah, bersama-sama dengan suaminya.

Untuk menggapainya, aku mesti menjaga semangat belajarku. Menjadi ratu rumah tangga yang memiliki seabrek pekerjaan seputaran dapur, kasur, dan sumur (istilah yg sering aku dengar seputar tugas istri) bukan berarti punya alasan untuk tidak meng-upgrade ilmunya. Apalagi ibu RT dengan tambahan pekerjaan lain di luar rumahnya (yang sering disebut wanita karier), pasti saat pulang ke rumah udah merasa kelelahan. Karena itulah, aku pribadi berusaha menjalin dan menjaga hubungan dengan teman-teman supaya bisa selalu termotivasi dan saling menyemangati. Pergi bersama teman ke kajian-kajian ilmu akan menjadi hal yang menyenangkan dan bermanfat, tentunya dengan ijin suami ya...^^ Berteman dengan teman-teman yang memiliki semangat belajar tinggi juga bisa memacu diriku tuk terus berkarya, dan bahkan inspirasi bisa aku dapatkan dari mereka.

Hal kedua yang menurutku akan menjadi karakteristik wonderful wife adalah Imutlucumenggemaskan. Hehehe, apa pula ini? Iya, sering kali karena seiring waktu, banyaknya pekerjaan rumah, kita (gue aja kali...) para istri melupakan hal sepele ini. Tampil imut menggoda adalah sebuah keharusan. Tak terbayang oleh seorang istri, betapa beratnya godaan di luar rumah yang menyerang mata suami kita saat jihad mengais rejeki untuk keluarganya. Ada banyak wanita yang berdandan cantik di luar sana dengan pakaian yang minim, bisa mengganggu pandangan suami kita. Alangkah sedihnya jika saat pulang ke rumah, kita masih tampil berantakan, bau bumbu masakan dan tidak menarik perhatiannya lagi. Tampil imut tak mesti ribet kok, cukup tampil bersih dan wangi plus senyum penuh cinta, cukup untuk membuat hati suami senang dan bahagia.

Selain itu kita juga mesti lucu dan menggemaskan buat suami kita. Tak ada salahnya menggodanya dengan candaan ringan yang tentunya ngga pakai bumbu bohong ya... Atau sedikit kejutan seperti membacakan puisi pendek yang romantis, bisa bikin si cinta merasa gemas sama istrinya. Bercanda dengan pasangan itu bukan termasuk hal sia-sia loh, malah bahkan sangat berpahala.

Hal ketiga adalah...Qana'ah, yaitu merasa cukup dan bersyukur dengan apa yang diberikan Allah lewat rezqi yang dititipkan dalam genggaman tangan suami. Sering kali tanpa terasa, kita melontarkan kalimat-kalimat yang tanpa disadari pula menyakiti perasaan suami. Keluhan atas rezqi yang pas-pasan atau tidak mencukupi dapat membuat hatinya bersedih. Oya prinsip ghadul bashar atau menundukkan pandangan pun mesti diterapkan dengan baik oleh para istri. Bukan hanya menjaga pandangan dari melihat kelebihan-kelebihan rezqi yang Allah anugrahkan pada kehidupan teman-temannya yang bisa bikin ngiri dan mengeluh, tapi juga menundukkan pandangan dari fisik lelaki lain meski dia itu seorang artis yang digandrungi dan diidolakan banyak orang. Cukuplah si cinta orang tertampan dalam pandangan dan hati kita, gak usah nglirik yg lain...hehehe. (terinspirasi dari seorang teman yg mengidolakan seorang aktor apa boyband yah.. dan ternyata suaminya cemburu)

Agar kita bisa qana'ah, saling mengingatkan untuk belajar sabar dan ikhlas itu penting. Apalagi dibarengi dengan ilmu-ilmu pendukungnya. Seperti misalnya, belajar manajemen keuangan rumah tangga, agar kita bisa mengatur rezqi dengan baik, supaya pemberian dari suami itu bisa cukup atau bahkan bersisa. Yang utama, sih..menjaga keimanan pada Allah, bahwa Allah telah menetapkan rezqi untuk kita, gak mungkin ketuker-tuker. Tugas kita hanya menyempurnakan ikhtiar, berdoa, lalu bersabar.

Itu saja yang bisa aku tulis sebagai bahan renunganku pribadi dalam menggapai predikat wonderful wife bagi suamiku, sekaligus tulisan yang aku ikut sertakan dalam acara Give Away Wonderful Wife by: mba Ida Nur Laila.

Semoga Allah berkenan memperbaiki apa-apa yang belum baik dalam diriku ini, dan menjaga semangatku untuk menjadi wonderful wife.