Tadinya tanggal 30 November sampe hari ini 1 Desember, saya pengen ikut belajar hadits dengan Ustadz Yahya Badrussalam di Bogor. Sembari ada niatan pengen kopdar juga sama teh Atin dan teh Novi kenalanku di FB. Semua sudah dipersiapkan. Qadarullah, suami gak bisa antar-antar dan ternyata budget'nya ngga memadai. Untuk menghiburku, suamiku yang baikhatiramahdantidaksombong membawaku ke sebuah seminar. Bandung Bootcamp, di Universitas Pendidikan Indonesia.
Saya pikir ini seminar apaaa...ternyata dalemnya ilmu buat jadi pengusaha. Hehehe. Cita-citaku dan keinginankku setelah terjerumus ke dalam pergaulan para business woman. Alhamdulillaah materi di awal seminar ini sangat menarik dan cukup memberi motivasi. Bincang-bincang sama beberapa pengusaha muda yang sudah mengalami banyak kisah hingga akhirnya menjadi seseorang yang lebih sukses. Bahkan ada pembicaranya yang mengaku dulunya saat bangkrut dia pernah mencoba melakkukan pembobolan ATM segala dan masuk penjara...hadeuuh...alhamdulillaah udah pada insaP...hehe.
Hanya saja, saya kurang setuju saat ada salah satu pembicara yang bilang bahwa ide itu ngga ada harganya SAMA SEKALI. Sama sekali ngga berharga? Ciyusss?? Mungkin benar "how to make the ideas become money" itu lebih berharga. Tapi tanpa sebuah ide, dia juga ngga bisa menghasilkan uang kan? Dan ini bertentangan dengan arti uang pada seminar "cring-cring" yang saya ikuti sebelumnya... yang justru mengatakan bahwa Uang itu hanyalah sebuah IDE! Yang jelas saya setuju dengan pembicara saat dia bilang bahwa "Ideas is nothing without ACTION"
Ada beberapa hal yang saya tangkap dalam seminar itu, dan dalam Catatan Sederhana ini akan saya tuliskan kembali.
Untuk memulai ide-ide kreatif kita menjadi sebuah bisnis, ada banyak sekali pertanyaan yang mesti kita jawab. Setelah muncul ide kreatif, kita bisa bertanya, "HOW we do it?". Bagaimana sistemnya, Siapa pangsa pasarnya? Dari mana kita mendapatkannya? Kapan waktu terbaik? Apa yang mesti dilakukan pertama kali? dan sebagainya.
Agar bisnis lebih langgeng, kita pun perlu memilih jenis bisnis apa yang akan kita jalani. Di bidang property kah? Di bidang digital market kah? Crafting? Cooking? Yang jelas, apapun pilihan bisnis kita, mulailah dari hal-hal yang paling kita sukai. Oh, seperti saya...I LOVE CRAFTING, maka terlahirlah Momet Gift seperti sekarang ini. Rempong tapi seneng...
Ada hal yang saya sangat garis bawahi saat seorang pembicara bertanya, "Apa niat bisnis anda?" dan niat ini akan menentukan tumbuh kembang bisnis dan usaha anda kedepannya. Jika bisnis anda berantakan, atau tak berkembang, mungkin ada yang salah dengan niat awal kita membangun bisnis ini. Dan memang, hal (yang dianggap) sederhana ini menjadi hal pokok dan mendasar dalam membangun sebuah Kerajaan Bisnis. Ibarat sebuah bangunan dengan fondasi yang kuat, begitulah bisnis dengan niat yang mulia akan lebih terjaga dan lebih mampu tuk berdiri kokoh.
Selain itu cara-cara berbisnis pun mesti kita pelajari dengan benar. Pembicara memang tak menjelaskan secara gamblang. Namun bagi saya, seorang muslim, penting sekali bagi kita mengetahui cara berbisnis ini agar kita lebih tau halal-haramnya, baik-buruknya perniagaan yang kita jalani, dan hal ini sangat menentukan keberkahan bisnis kita. Ini menyangkut rejeki yang akan kita makan juga kan... Kalau kita mendapatinya dengan cara yang tidak diridhai oleh Allah, bagaimana nasib kita jika ada daging yang tumbuh dari harta haram tersebut?? Na'udzubillaah min dzalik.
Sahabat, seperti halnya kita sebagai seorang individu membutuhkan teman seperjalanan yang shalih yang dapat saling mengingatkan, ada kalanya juga dalam berbisnis kita merasa kurang semangat. Karena itulah sebaiknya kita memiliki mentor dan komunitas tempat berkumpul bersama teman-teman yang melakukan bisnis. Agar memilihi usaha yang mapan, stabil dan berkembang, penting sekali menjaga passion, semangat dan komitmen kita. Dan jika masih menemukan diri kita tetap tidak semangat, mungkin ada dua kemungkinan: Kemungkinan ke-1 --> Udah menyerah, Kemungkinan ke-2 --> Udah puas dengan kondisi yang dimilikinya saat ini. Bagaimana pun, semoga kedua kemungkinan itu ngga sampai hinggap di diri kita. Semoga kita ngga cepat puas dengan apa yang kita capai hari ini. Sehingga kita dapat mencapai prestasi yang lebih baik lagi.
Pembicara juga menjelaskan pentingnya ilmu komunikasi. Dalam menjual sesuatu, kita membutuhkan komunikasi yang baik agar terjalin hubungan yang baik antara penjual dan pembeli. Bagi bisnis online terutama, komunikasi ini penting sebagai layanan customer service juga. Ini adalah salah satu kelemahan yang sering diabaikan. *jleb...jleb...jleb...banget di hatiku* Karena meski aku cerewet tapi kadang aku ngga pandai menyampaikan apa yang mestinya kusampaikan. Oh...par customer setiaku...maapkan aku yah!!!
Masih ada beberapa oleh-oleh dari Bandung Bootcamp yang pengen aku share, tapi skarang aku mesti siap-siap cari ilmu yang lain..hehe...udah dulu yah, nanti maryam lanjut lagi, insyaAllah.
Yang penting...Do the best!! Ganbatte...!!! Hamasah!!
1 Desember 2013
@istana Maryam
"Semoga Allah memberkahi usaha kita ini ya teman....!!!"
Sabtu, 30 November 2013
Kamis, 28 November 2013
Ucapan Tasbih (Subhaanallah)
Salahkah Ucapan Tasbih (Subhaanallah) Ketika Kagum/Takjub?
Alhamdulillah. Asshalaatu wassalaamu ‘ala nabiiyihi alkariim.
Beberapa tulisan di dunia maya menyebutkan kelirunya ungkapan “subhaanallah” ketika seseorang takjub atau kagum terhadap sesuatu. Benarkah pernyataan ini?
Salah satu ungkapan yang dilirihkan seorang muslim ketika takjub atau kagum terhadap sesuatu adalah ungkapan ‘subhaanallah’.
_______________
.::Berikut beberapa dalil
Dalil pertama:
إِنَّ فِي خَلْقِ السَّمَاوَاتِ وَالأرْضِ وَاخْتِلافِ اللَّيْلِ وَالنَّهَارِ لآيَاتٍ لأولِي الألْبَابِ
الَّذِينَ يَذْكُرُونَ اللَّهَ قِيَامًا وَقُعُودًا وَعَلَى جُنُوبِهِمْ وَيَتَفَكَّرُونَ فِي خَلْقِ السَّمَاوَاتِ وَالأرْضِ رَبَّنَا مَا خَلَقْتَ هَذَا بَاطِلا سُبْحَانَكَ فَقِنَا عَذَابَ النَّارِ
“Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, dan silih bergantinya malam dan siang terdapat tanda-tanda bagi orang-orang yang berakal,”
“(yaitu) orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri atau duduk atau dalam keadaan berbaring dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi (seraya berkata): "Ya Tuhan kami, tiadalah Engkau menciptakan ini dengan sia-sia. Maha Suci Engkau (سبحانك), maka peliharalah kami dari siksa neraka.”[1]
Segi pendalilan dalam ayat ini adalah terdapat tanda-tanda kebesaran Allah dalam penciptaan langit dan bumi beserta hal-hal yang berkaitan dengan kehidupan di dalamnya. Lisan orang yang berakal menyenandungkan tasbih kepada Allah ketika melihat dan memikirkan tentang segala sesuatu yang Allah ciptakan.[2]
Mereka berkata, seperti dalam ayat di atas:
"Ya Tuhan kami, tiadalah Engkau menciptakan ini dengan sia-sia. Maha Suci Engkau (سبحانك), maka peliharalah kami dari siksa neraka.”
Tentang ayat ini, Dr Muhammad ibn Ishaq berkata dalam kitabnya yang berjudul at-Tasbih fiy al-Kitab was Sunnah:
“Dalam ayat ini terdapat seruan kepada kamu muslimin untuk merenungi penciptaan dan bertasbih kepada Allah ketika takjub yang menandakan kebesaran dan keagungan Allah dan bahwasanya hanya Dialah illah yang berhak diibadahi dengan benar.”[3]
______
Dalil Kedua;
Allah membuka surat al-Israa’ dengan ungkapan tasbih:
سُبْحَانَ الَّذِي أَسْرَى بِعَبْدِهِ لَيْلا مِنَ الْمَسْجِدِ الْحَرَامِ إِلَى الْمَسْجِدِ الأقْصَى الَّذِي بَارَكْنَا حَوْلَهُ لِنُرِيَهُ مِنْ آيَاتِنَا إِنَّه هُوَ السَّمِيعُ الْبَصِيرُ
“Maha Suci Allah, yang telah memperjalankan hamba-Nya pada suatu malam dari Al Masjidilharam ke Al Masjidilaksa yang telah Kami berkahi sekelilingnya agar Kami perlihatkan kepadanya sebagian dari tanda-tanda (kebesaran) Kami. Sesungguhnya Dia adalah Maha Mendengar lagi Maha Melihat.”[4]
Ayat yang mengagumkan ini mengandung sesuatu yang tidak bisa dilakukan oleh siapapun kecuali Allah semata. Oleh sebab itu Allah membuka surat al-Israa’ dengan tasbih sebagai sebagai bentuk takjub terhadap mu’jizat yang menandakan kebesaran dan keagungan-Nya, kebenaran kenabian Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam beserta kedudukan beliau yang tingga di sisi Allah[5]
Sebagian ulama berkata:
Ungkapan “Subhaana (سبحان)” dalam ayat di atas adalah untuk “ta’ajjub (takjub/kagum)”[6]
_________
.::Kesimpulan:
1. Masih banyak nash yang lain mengindikasikan bahwa ungkapan “subhanallah” juga digunakan sebagai bentuk ta’ajjub. Begitu pula ungkapan para ulama dalam tema ini.
2. Tidak tepat jika menyalahkan orang yang mengungkapkan "subhanallah" ketika takjub/kagum.
3. Penggunaan ungkapan “subhanallah” digunakan atau diungkapkan pada banyak kondisi seperti penyucian terhadap Allah ketika melihat atau mendengar sesuatu yang tidak disenangi, kesalahan aqidah, ta’ajjub dan kondisi lain yang disebutkan para ulama.
4. Kami sangat menyarankan untuk membaca kitab at-Tasbih fiy al-Kitab was Sunnah wa ar-Raddu ‘ala Mafaahim al-Khathi’ah Fiyhi yang dikarang oleh Dr. Muhammad ibn Ishaq diterbitkan oleh Maktabah Daar al-Minhaaj, Riyadh. Kitab ini terdiri dari 2 jilid tebal mengulas panjang lebar tentang tasbih. Catatan sederhana ini banyak mengambil faidah dari kitab tersebut jilid 2.
Subhaanaka allahumma wabihamdika asyhadu allaa ilaaha illaa anta asytaghfiruka wa atuubu ilaika.
______
Fachrian Almer Akiera
Mataram, Lombok. Kamis Sore, 13 Rajab 1434 H/ 23 Mei 2013 M.
Diedit kembali pada Jum'at sore, 10 Ramadhan 1434 H.
________
Referensi:
1. Al-Qur-an digital dan terjemahannya
2. kitab at-Tasbih fiy al-Kitab was Sunnah wa ar-Raddu ‘ala Mafaahim al-Khathi’ah Fiyhi oleh Dr. Muhammad ibn Ishaq, jilid 2, diterbitkan oleh Maktabah Daar al-Minhaaj, Riyadh.
_____
End Notes:
[1] QS Ali Imraan: 190-191
[2] Lihat kitab at-Tasbih fiy al-Kitab was Sunnah oleh Dr Muhammad ibn Ishaq, hal 32, jilid 2.
[3] Ibid, hal 33.
[4] QS al-Israa’: 1
[5] Lihat kitab at-Tasbih fiy al-Kitab was Sunnah, hal 33, jilid 2
[6] Lihat kitan al-Hujjah fiy Bayaani al-Muhajjah wa Syarhi ‘Aqiidati ‘Ahli as-Sunnah 1/511. Kami kutip dari kitab at-Tasbih fiy al-Kitab was Sunnah, hal 33, jilid 2
Alhamdulillah. Asshalaatu wassalaamu ‘ala nabiiyihi alkariim.
Beberapa tulisan di dunia maya menyebutkan kelirunya ungkapan “subhaanallah” ketika seseorang takjub atau kagum terhadap sesuatu. Benarkah pernyataan ini?
Salah satu ungkapan yang dilirihkan seorang muslim ketika takjub atau kagum terhadap sesuatu adalah ungkapan ‘subhaanallah’.
_______________
.::Berikut beberapa dalil
Dalil pertama:
إِنَّ فِي خَلْقِ السَّمَاوَاتِ وَالأرْضِ وَاخْتِلافِ اللَّيْلِ وَالنَّهَارِ لآيَاتٍ لأولِي الألْبَابِ
الَّذِينَ يَذْكُرُونَ اللَّهَ قِيَامًا وَقُعُودًا وَعَلَى جُنُوبِهِمْ وَيَتَفَكَّرُونَ فِي خَلْقِ السَّمَاوَاتِ وَالأرْضِ رَبَّنَا مَا خَلَقْتَ هَذَا بَاطِلا سُبْحَانَكَ فَقِنَا عَذَابَ النَّارِ
“Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, dan silih bergantinya malam dan siang terdapat tanda-tanda bagi orang-orang yang berakal,”
“(yaitu) orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri atau duduk atau dalam keadaan berbaring dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi (seraya berkata): "Ya Tuhan kami, tiadalah Engkau menciptakan ini dengan sia-sia. Maha Suci Engkau (سبحانك), maka peliharalah kami dari siksa neraka.”[1]
Segi pendalilan dalam ayat ini adalah terdapat tanda-tanda kebesaran Allah dalam penciptaan langit dan bumi beserta hal-hal yang berkaitan dengan kehidupan di dalamnya. Lisan orang yang berakal menyenandungkan tasbih kepada Allah ketika melihat dan memikirkan tentang segala sesuatu yang Allah ciptakan.[2]
Mereka berkata, seperti dalam ayat di atas:
"Ya Tuhan kami, tiadalah Engkau menciptakan ini dengan sia-sia. Maha Suci Engkau (سبحانك), maka peliharalah kami dari siksa neraka.”
Tentang ayat ini, Dr Muhammad ibn Ishaq berkata dalam kitabnya yang berjudul at-Tasbih fiy al-Kitab was Sunnah:
“Dalam ayat ini terdapat seruan kepada kamu muslimin untuk merenungi penciptaan dan bertasbih kepada Allah ketika takjub yang menandakan kebesaran dan keagungan Allah dan bahwasanya hanya Dialah illah yang berhak diibadahi dengan benar.”[3]
______
Dalil Kedua;
Allah membuka surat al-Israa’ dengan ungkapan tasbih:
سُبْحَانَ الَّذِي أَسْرَى بِعَبْدِهِ لَيْلا مِنَ الْمَسْجِدِ الْحَرَامِ إِلَى الْمَسْجِدِ الأقْصَى الَّذِي بَارَكْنَا حَوْلَهُ لِنُرِيَهُ مِنْ آيَاتِنَا إِنَّه هُوَ السَّمِيعُ الْبَصِيرُ
“Maha Suci Allah, yang telah memperjalankan hamba-Nya pada suatu malam dari Al Masjidilharam ke Al Masjidilaksa yang telah Kami berkahi sekelilingnya agar Kami perlihatkan kepadanya sebagian dari tanda-tanda (kebesaran) Kami. Sesungguhnya Dia adalah Maha Mendengar lagi Maha Melihat.”[4]
Ayat yang mengagumkan ini mengandung sesuatu yang tidak bisa dilakukan oleh siapapun kecuali Allah semata. Oleh sebab itu Allah membuka surat al-Israa’ dengan tasbih sebagai sebagai bentuk takjub terhadap mu’jizat yang menandakan kebesaran dan keagungan-Nya, kebenaran kenabian Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam beserta kedudukan beliau yang tingga di sisi Allah[5]
Sebagian ulama berkata:
Ungkapan “Subhaana (سبحان)” dalam ayat di atas adalah untuk “ta’ajjub (takjub/kagum)”[6]
_________
.::Kesimpulan:
1. Masih banyak nash yang lain mengindikasikan bahwa ungkapan “subhanallah” juga digunakan sebagai bentuk ta’ajjub. Begitu pula ungkapan para ulama dalam tema ini.
2. Tidak tepat jika menyalahkan orang yang mengungkapkan "subhanallah" ketika takjub/kagum.
3. Penggunaan ungkapan “subhanallah” digunakan atau diungkapkan pada banyak kondisi seperti penyucian terhadap Allah ketika melihat atau mendengar sesuatu yang tidak disenangi, kesalahan aqidah, ta’ajjub dan kondisi lain yang disebutkan para ulama.
4. Kami sangat menyarankan untuk membaca kitab at-Tasbih fiy al-Kitab was Sunnah wa ar-Raddu ‘ala Mafaahim al-Khathi’ah Fiyhi yang dikarang oleh Dr. Muhammad ibn Ishaq diterbitkan oleh Maktabah Daar al-Minhaaj, Riyadh. Kitab ini terdiri dari 2 jilid tebal mengulas panjang lebar tentang tasbih. Catatan sederhana ini banyak mengambil faidah dari kitab tersebut jilid 2.
Subhaanaka allahumma wabihamdika asyhadu allaa ilaaha illaa anta asytaghfiruka wa atuubu ilaika.
______
Fachrian Almer Akiera
Mataram, Lombok. Kamis Sore, 13 Rajab 1434 H/ 23 Mei 2013 M.
Diedit kembali pada Jum'at sore, 10 Ramadhan 1434 H.
________
Referensi:
1. Al-Qur-an digital dan terjemahannya
2. kitab at-Tasbih fiy al-Kitab was Sunnah wa ar-Raddu ‘ala Mafaahim al-Khathi’ah Fiyhi oleh Dr. Muhammad ibn Ishaq, jilid 2, diterbitkan oleh Maktabah Daar al-Minhaaj, Riyadh.
_____
End Notes:
[1] QS Ali Imraan: 190-191
[2] Lihat kitab at-Tasbih fiy al-Kitab was Sunnah oleh Dr Muhammad ibn Ishaq, hal 32, jilid 2.
[3] Ibid, hal 33.
[4] QS al-Israa’: 1
[5] Lihat kitab at-Tasbih fiy al-Kitab was Sunnah, hal 33, jilid 2
[6] Lihat kitan al-Hujjah fiy Bayaani al-Muhajjah wa Syarhi ‘Aqiidati ‘Ahli as-Sunnah 1/511. Kami kutip dari kitab at-Tasbih fiy al-Kitab was Sunnah, hal 33, jilid 2
Seperti
takut...
sakit...
marah...
kesal...
sesal...
seperti bukan aku.
atau memang mungkin ini aku sesungguhnya?
sebuah borok...
membusuk...
bilakah kekuatan itu datang?
bergerak,
meski merangkak
menuju cahaya.
hujan...
mampukah menghapus sesal?
seperti bukan aku.
tak ingin mengakuinya
seperti bukan aku...
sakit....
Selasa, 26 November 2013
Tentang Sahabat
Setelah menuntut ilmu, belajar tentang TEORI ikhlas, sabar dan tawakal, serta teori-teori lainnya, maka Allah menyuguhkan sebentuk ujian berupa masalah-masalah hidup agar kita terlatih dan dapat mengaplikasikannya pada kehidupan kita sehari-hari.
Jika ada yang membuatmu kesal, marah, sedih, galau, dan rasa-rasa lainnya... Ucapkanlah "TERIMAKASIH" karena mereka sudah membantu kita berlatih dan membuat materi pelajaran yang kita pelajari tak hanya jadi sekedar TEORI.
Meski mungkin, dalam setiap pembelajaran selalu ada resiko yang kita ambil. Entah berupa harta benda, waktu, bahkan perasaan kita sendiri. Ingatlah satu hal, bahwa tak pernah ada kesia-siaan dalam memperjuangkan ikhlas dan sabar. Terutama dalam proses "pembelajaran". Dan selalunya menahan amarah meski kita mampu dan memang "berhak" tuk marah, dengan alasan karena Allah, akan berbuah manis.
Ambil pelajaran dari setiap peristiwa, hingga kita terhindar dari melakukan kesalahan yang sama. Jika ada yang menyakiti, keluarkanlah stok maaf dari hati. Namun jika disakiti beberapa kali oleh orang yang sama, pandanglah dia dengan rasa "kasihan", maafkanlah lagi, dengan catatan: hati-hati dan waspada jika bermuamalah dengannya.
Takkan terusik lautan luas karena lemparan batu seorang anak kecil
Untuk menyebut seseorang sebagai teman dan sahabat, memang membutuhkan waktu. Dan setiap ujian yang dilalui dapat membuat kita menyadari akan arti kehadiran satu sama lain dalam hidup masing-masing. Apakah hanya kenalan, teman, sahabat, atau lebih dari sekedar sahabat... Yang jelas, berteman dan bersahabatlah karena Allah, karena akan lebih kekal abadi. Dan kunci persahabatan yang menyenangkan adalah saling memahami dan menerima segala kekurangan dan kelebihan satu sama lain. Berawal dari ta'aruf (saling mengenal), tafahum (saling memahami), ta'awun (saling tolong menolong) dan tingkatan tertinggi adalah itsar (saling mendahulukan) saat kita tak lagi mementingkan diri sendiri.
Catatan sederhana ini kutulis sebagai nasihat bagi diriku sendiri, agar aku dapat mengambil pelajaran darinya...
27 November 2013
@Kaki bukit impian
@Kaki bukit impian
"aku akan selalu jadi sahabatmu, meski tak terlihat...."
Sabtu, 23 November 2013
Simple Cooking: Puding Mangga Pake Cinta
Minggu yang galau...hehe. Matahari malu-malu meong menampakkan diri. Kadang cerah, kadang mendung. Abiw keliatan ngga bersemangat melakukan aktivitas outdoor, dan kayaknya dia kecapean banget. Ya sudah kubiarkan saja dia bersantai menikmati hari libur ini. Kalo aku sebenernya banyak agenda yang berhubungan dengan merajut. masih banyak peer yang mesti dikerjakan. Jadi Minggu ini ngga ada kata libur untukku.
Tapi ngeliat abiw diem aja, dan keliatan terkantuk-kantuk, aku jadi pengen bikin cemilan buat dia. Alhamdulillaah ada beberapa buah mangga yang kubeli kemarin pulang kajian, santan kara, dan agar-agar. Kayaknya bikin puding mangga bakalan seru juga.
Proses pembuatan puding juga ngga ribet. Lumayan cepet dan ngga menghabiskan banyak waktu. So, inilah resepnya:
Bahan-bahan
1 bungkus agar-agar
2 buah mangga harum manis ukuran kecil
4 gelas air
7 sendok makan gula pasir
1 sendok makan maizena
1 bungkus santan instant
Caranya:
Kupas mangga dan potong dadu, lalu susun di dalam mangkuk. Rebus semua bahan : agar-agar, air, gula pasir, hingga agak mendidih, lalu masukkan santan dan campuran maizena yang diseduh dengan sedikit air. Aduk hingga mendidih. Lalu siramkan dalam mangkuk atau cetakan yang sudah dibubuhi mangga. Diamkan hingga mengeras.
Kayaknya kalo ditambah fla susu enak, berhubung ngga ada, ya sudah cukup begini saja sudah enak..apalagi masaknya pake cinta...wkwkwkw....
Apapun aktivitasnya, moga saja hari Minggu ini menjadi hari yang menyenangkan, dan tetap full aktivitas yang bermanfaat ya..
24 November 2013
@Drim Hill
Tapi ngeliat abiw diem aja, dan keliatan terkantuk-kantuk, aku jadi pengen bikin cemilan buat dia. Alhamdulillaah ada beberapa buah mangga yang kubeli kemarin pulang kajian, santan kara, dan agar-agar. Kayaknya bikin puding mangga bakalan seru juga.
Satu panci dari sebungkus agar-agar bisa jadi dua mangkuk nih...^^
Bahan-bahan
1 bungkus agar-agar
2 buah mangga harum manis ukuran kecil
4 gelas air
7 sendok makan gula pasir
1 sendok makan maizena
1 bungkus santan instant
Caranya:
Kupas mangga dan potong dadu, lalu susun di dalam mangkuk. Rebus semua bahan : agar-agar, air, gula pasir, hingga agak mendidih, lalu masukkan santan dan campuran maizena yang diseduh dengan sedikit air. Aduk hingga mendidih. Lalu siramkan dalam mangkuk atau cetakan yang sudah dibubuhi mangga. Diamkan hingga mengeras.
Kayaknya kalo ditambah fla susu enak, berhubung ngga ada, ya sudah cukup begini saja sudah enak..apalagi masaknya pake cinta...wkwkwkw....
Apapun aktivitasnya, moga saja hari Minggu ini menjadi hari yang menyenangkan, dan tetap full aktivitas yang bermanfaat ya..
24 November 2013
@Drim Hill
Jumat, 22 November 2013
Ma'had Udrussunnah, Mencari Bekal Ilmu Syar'i
Alhamdulillaah ngga terasa aku ikut belajar di Ma'had Udrussunnah sejak 5 Oktober 2013 lalu. Hampir enam mingguan ya, hingga saat ini? Ngga terasa besok udah mau ujian aja. Aku belom ngafalin materinya, catatanku agak acakadul. What's acakadul in English ya? hehehe.
Alhamdulillaah, aku bersyukur banget bisa ikutan ma'had ini. Padahal sejak awal aku agak merasa takut tuk ikut kajian ilmu syar'i ini. YUP...aku takut terlalu tua untuk belajar bersama murid-murid lainnya yang kebanyakan masih duduk di bangku kuliah. Aku takut otakku ngga nyampe tuk mempelajarinya. Aku takut ngga bisa memenuhi komitmen menghadirinya setiap sabtu seharian dari jam 10 pagi sampe jam 15.30 sore. Aku takut ngga punya temen, secara mereka masih muda belia. Dan ada banyak kecemasan yang ngga masuk akal lainnya yang hampir menggoyahkan azzamku tuk belajar.
Seperti biasa, Abiw, suamiku selalu jadi orang pertama yang memberi dukungan tuk belajar. Bahkan blio rela membiayai sekolah agama singkat ini dari uang gajinya. Abiw juga begitu semangat mengantarkanku setiap Sabtu pergi ke Ma'had yang terletak di jalan Jurang Bandung, tak lupa membelikan bekal berupa jajanan..hehehe. Perjalanan yang cukup jauh dari rumah kami di Cimahi. Dan Abiw yang baik hati ini juga rela kalau setiap Sabtu ngga dimasakin makanan selama seharian karena istrinya mesti menimba ilmu syar'i sejak pagi hingga petang. Dia juga dengan senang hati menghabiskan hampir seluruh waktunya di toko buku terdekat sembari menungguku belajar, dan kemudian menjemputku jika waktu pembelajaran berakhir. Di rumah, sering kali Abiw membantu muraja'ah pelajaran yang aku pelajari di Ma'had. Sikap Abiw yang begitu total mendukung aktivitasku sebagai seorang pembelajar ini membuatku lebih semangat. Dan aku bertekad tak akan menyiakan kesempatan ini. Aku akan belajar dengan baik.
Di Ma'had Udrussunnah ini, ada tiga materi yang kami pelajari yaitu Aqidah, Figh, dan bahasa Arab. MasyaAllah... hanya tiga materi saja? Sedikit memang, jika dibandingkan dengan pelajaran di sekolah. Namun ketiga ilmu syar'i ini sangat penting tuk dipelajari. Ketiga materi itu seperti tiga fondasi untuk bekal kami dalam menjalani hidup dan insyaAllah bekal tuk perjalanan ke kampung akhirat pula. Untukku lebih dari sekedar penting, tapi ini juga merupakan modal awal bekalku sebagai seorang ibu, insyaAllah kelak aku akan menjadi madrasah pertama dan utama bagi anak-anakku, insyaAllah-bi idznillaah....
Allahu Akbar..!!!!
Aku selalu terpesona dengan ilmu yang disampaikan asatidz (para guru-bentuk jamak dari ustadz ^^). Selama hidupku, aku belum pernah belajar agama dengan begitu ilmiyah. Setiap penjelasan materi dilengkapi dengan sumber yang jelas, baik rujukan kitab dan keterangan hadits'nya. Sang ustadz tak pernah menyampaikan suatu materi dengan hanya mengandalkan pemikirannya saja (ra'yu), tapi beliau menyampaikan berasarkan pemahaman para salafush shaalih. InsyaAllah dengan begitu materi menjadi lebih akurat. Suka juga sama cara penyampaiannya, Ustadz sering bikin olahraga otak dengan pertanyaan-pertanyaannya. Diskusi....aku suka itu...
Oya, dalam materi aqidah, kami mempelajari ilmu dasar Ushul Tsalatsah. Dengan materi tersebut kita dapat menyelami kembali tuk lebih mengenal Allah Ta'ala, mengenal Rasulullah shalallaahu 'alaihi wasallam, dan mengenal agama Islam ini lebih baik lagi. Terus terang saja, ilmu ini sudah kita pelajari sejak bangku sekolah dasar, namun ternyata banyak hal yang belum aku pahami dengan benar.
Dalam pelajaran fiqh, aku membayangkan akan mempelajari banyaaaaaakkk hal yang rumit seputar ibadah. namun disini sejak awal kami ternyata mempelajari tentang Sifat Shalat Nabi. Wah...wah...wah... mendasar sekali pelajaran ini. Aku pikir shlat sudah diajarkan sejak dulu oleh guru di sekolah dasar. Ternyata dalam pelajaran fiqh ini kami belajar lebih baik lagi tentang sifat shalat nabi. Seakan aku dibangunkan kembali tuk menelaah lagi apakah shalatku sudah betul apa belum? Lagi-lagi...banyak hal yang baru aku tau. Aku juga semakin terbuka wawasan tentang ikhtilaf gerakan-gerakan dalam shalat. Teringat dulu saat kuliah aku ditanya seorang teman "Maryam, kamu islam apa? kok saat tasyahud jari telunjukmu diam saja, ngga digerak-gerakkan???" Saat itu aku gak tau mesti menjawab apa. Oh ternyata.... setiap gerakan dalam shalat ada dalil pendukungnya, semuanya mesti ada dasarnya dan penjelasan ilmiyah mengapa kita melakukan gerakan seperti ini-itu. Dan ini penting dipelajari agar kita tak hanya menjalankan shalat dan menghindari taqlid dalam beribadah.
Nah yang terakhir adalah materi bahasa Arab. Ngga banyak yang bisa aku ceritakan. Bahasa arab memang penting dipelajari karena Al-Qur'an dan Hadits menggunakan bahasa Arab. Mempelajari bahasa arab berarti kita mempelajari petunjuk Allah. MasyaAllah, memang terasa tak mudah mempelajarinya, namun jika kita bersabar dalam mempelajarinya, insyaAllah banyak hikmah dan manfaatnya. Setidaknya tumbuhkan dulu kecintaan terhadap bahasa arab, kokohkan niat dan perkuat motivasi mempelajarinya, insyaAllah lebih mudah. Numpang curcol ah...bu ustadzaaah....kalo ngasih peer jangan susah2 dong...hihihi. Aku kesulitan mengikuti pelajaran ini..alhamdulillaah teman-temanku baik hati, mereka ngga susah dipintain tolong tuk menjelaskan kembali materi-materi itu.
Alhamdulillaah, seneng banget belajar ilmu syar'i ini... moga saja barakah, bermanfaat...dan semoga dimudahkan dalam mempelajarinya. Tak ada kata terlambat tuk belajar. Man jadda wa jadda...hehehe.
ilmu Syar'i...ilmu jempolan...hehehe
Alhamdulillaah, aku bersyukur banget bisa ikutan ma'had ini. Padahal sejak awal aku agak merasa takut tuk ikut kajian ilmu syar'i ini. YUP...aku takut terlalu tua untuk belajar bersama murid-murid lainnya yang kebanyakan masih duduk di bangku kuliah. Aku takut otakku ngga nyampe tuk mempelajarinya. Aku takut ngga bisa memenuhi komitmen menghadirinya setiap sabtu seharian dari jam 10 pagi sampe jam 15.30 sore. Aku takut ngga punya temen, secara mereka masih muda belia. Dan ada banyak kecemasan yang ngga masuk akal lainnya yang hampir menggoyahkan azzamku tuk belajar.
Siapin bukunya...pulpennya...cemilannya...^^
Seperti biasa, Abiw, suamiku selalu jadi orang pertama yang memberi dukungan tuk belajar. Bahkan blio rela membiayai sekolah agama singkat ini dari uang gajinya. Abiw juga begitu semangat mengantarkanku setiap Sabtu pergi ke Ma'had yang terletak di jalan Jurang Bandung, tak lupa membelikan bekal berupa jajanan..hehehe. Perjalanan yang cukup jauh dari rumah kami di Cimahi. Dan Abiw yang baik hati ini juga rela kalau setiap Sabtu ngga dimasakin makanan selama seharian karena istrinya mesti menimba ilmu syar'i sejak pagi hingga petang. Dia juga dengan senang hati menghabiskan hampir seluruh waktunya di toko buku terdekat sembari menungguku belajar, dan kemudian menjemputku jika waktu pembelajaran berakhir. Di rumah, sering kali Abiw membantu muraja'ah pelajaran yang aku pelajari di Ma'had. Sikap Abiw yang begitu total mendukung aktivitasku sebagai seorang pembelajar ini membuatku lebih semangat. Dan aku bertekad tak akan menyiakan kesempatan ini. Aku akan belajar dengan baik.
Di Ma'had Udrussunnah ini, ada tiga materi yang kami pelajari yaitu Aqidah, Figh, dan bahasa Arab. MasyaAllah... hanya tiga materi saja? Sedikit memang, jika dibandingkan dengan pelajaran di sekolah. Namun ketiga ilmu syar'i ini sangat penting tuk dipelajari. Ketiga materi itu seperti tiga fondasi untuk bekal kami dalam menjalani hidup dan insyaAllah bekal tuk perjalanan ke kampung akhirat pula. Untukku lebih dari sekedar penting, tapi ini juga merupakan modal awal bekalku sebagai seorang ibu, insyaAllah kelak aku akan menjadi madrasah pertama dan utama bagi anak-anakku, insyaAllah-bi idznillaah....
Allahu Akbar..!!!!
Aku selalu terpesona dengan ilmu yang disampaikan asatidz (para guru-bentuk jamak dari ustadz ^^). Selama hidupku, aku belum pernah belajar agama dengan begitu ilmiyah. Setiap penjelasan materi dilengkapi dengan sumber yang jelas, baik rujukan kitab dan keterangan hadits'nya. Sang ustadz tak pernah menyampaikan suatu materi dengan hanya mengandalkan pemikirannya saja (ra'yu), tapi beliau menyampaikan berasarkan pemahaman para salafush shaalih. InsyaAllah dengan begitu materi menjadi lebih akurat. Suka juga sama cara penyampaiannya, Ustadz sering bikin olahraga otak dengan pertanyaan-pertanyaannya. Diskusi....aku suka itu...
Oya, dalam materi aqidah, kami mempelajari ilmu dasar Ushul Tsalatsah. Dengan materi tersebut kita dapat menyelami kembali tuk lebih mengenal Allah Ta'ala, mengenal Rasulullah shalallaahu 'alaihi wasallam, dan mengenal agama Islam ini lebih baik lagi. Terus terang saja, ilmu ini sudah kita pelajari sejak bangku sekolah dasar, namun ternyata banyak hal yang belum aku pahami dengan benar.
Dalam pelajaran fiqh, aku membayangkan akan mempelajari banyaaaaaakkk hal yang rumit seputar ibadah. namun disini sejak awal kami ternyata mempelajari tentang Sifat Shalat Nabi. Wah...wah...wah... mendasar sekali pelajaran ini. Aku pikir shlat sudah diajarkan sejak dulu oleh guru di sekolah dasar. Ternyata dalam pelajaran fiqh ini kami belajar lebih baik lagi tentang sifat shalat nabi. Seakan aku dibangunkan kembali tuk menelaah lagi apakah shalatku sudah betul apa belum? Lagi-lagi...banyak hal yang baru aku tau. Aku juga semakin terbuka wawasan tentang ikhtilaf gerakan-gerakan dalam shalat. Teringat dulu saat kuliah aku ditanya seorang teman "Maryam, kamu islam apa? kok saat tasyahud jari telunjukmu diam saja, ngga digerak-gerakkan???" Saat itu aku gak tau mesti menjawab apa. Oh ternyata.... setiap gerakan dalam shalat ada dalil pendukungnya, semuanya mesti ada dasarnya dan penjelasan ilmiyah mengapa kita melakukan gerakan seperti ini-itu. Dan ini penting dipelajari agar kita tak hanya menjalankan shalat dan menghindari taqlid dalam beribadah.
Nah yang terakhir adalah materi bahasa Arab. Ngga banyak yang bisa aku ceritakan. Bahasa arab memang penting dipelajari karena Al-Qur'an dan Hadits menggunakan bahasa Arab. Mempelajari bahasa arab berarti kita mempelajari petunjuk Allah. MasyaAllah, memang terasa tak mudah mempelajarinya, namun jika kita bersabar dalam mempelajarinya, insyaAllah banyak hikmah dan manfaatnya. Setidaknya tumbuhkan dulu kecintaan terhadap bahasa arab, kokohkan niat dan perkuat motivasi mempelajarinya, insyaAllah lebih mudah. Numpang curcol ah...bu ustadzaaah....kalo ngasih peer jangan susah2 dong...hihihi. Aku kesulitan mengikuti pelajaran ini..alhamdulillaah teman-temanku baik hati, mereka ngga susah dipintain tolong tuk menjelaskan kembali materi-materi itu.
Hahaha...permisiiii....ni ada emak-emak rempong mau ikutan belaajjjaaaarrr.... ^^
Alhamdulillaah, seneng banget belajar ilmu syar'i ini... moga saja barakah, bermanfaat...dan semoga dimudahkan dalam mempelajarinya. Tak ada kata terlambat tuk belajar. Man jadda wa jadda...hehehe.
Selasa, 19 November 2013
Baby Shoes And Us
Masih tentang baby shoes...
Newborn and for 12 months...^^
Kayaknya aku kesengsem semua hal yang berkaitan dengan bayi. MaasyaAllah, rasanya seperti jatuh cinta tuk kedua kalinya setelah jatuh cinta dan membangunnya bersama Abiw. (prikitiiieeewww...pagi-pagi dah ngegombal aja...hahahaha...)
Setelah membuat topi dan baby shoes pesanan mba Sri, kok aku merasa sayaaaaang banget tuk menjualnya. Secara gitu loh, saat aku merajutnya, aku TOTAL banget. Sambil membisiki dzikir di sela-selanya (daripada ngelamun), sambil membayangkan wajah princess ciliknya mba Sri lagi senyum, pokoknya aku ngerjain SENENG ATI..daahhh...
Rose Baby Hat by Maryam
Apalagi kalo pas merajutnya di luar rumah lagi hujan deras...tak henti membisik "Rabbii hablii minash shaalihiin"...Ya Allah...anugrahkan pada kami keturunan dari golongan hambaMU yang shalih...aamiin...Allahumma Aamiin.
Kapan yah, bisa buat baby shoes buat anakku sendiri? Kata-kata abiw selalu menghiburku, saat dia memujiku bahwa aku lebih dari pantas tuk jadi seorang ibu. Karena meski belum punya anak, rasa kasih sayangku telah tumbuh tuk mencintai anak-anak lainnya.. Abiw mengingatkanku pada kisah inspiratif ibunda ummul mukminin Aisyah Radhiyallaahu anha, yang Allah takdirkan tak memiliki anak, namun blio sudah berhasil mencetak generasi yang paling gemilang sepanjang sejarah..generasi yang kemudian menjadi ulama-ulama salafush shalih yang berjuang menegakkan kalimat tauhid di muka bumi ini.
Thai Inooy...moga jadi anak shalih ya nak...^^
Wah, kalo mendengar abiw ngomong begitu, hati ini sedikit lebih baik. Yup, anak merupakan amanah dari Allah. Jika kita tak menjaga mereka dengan baik, malah akan menjadi fitnah/ujian bagi kedua orang tuanya dan ummat pada umumnya. Anak bukanlah syarat tuk masuk syurga. Bukan pula tolak ukur kebahagiaan bagi mereka yang telah membangun rumah tangga. Ada dan tiadanya mereka merupakan tanda-tanda kebesaran Allah... tergantung dari mana kita memandang dan bagaimana kita mensikapinya.
Namun sepanjang nafas ini masih ada, sebuah harapan tuk memiliki qurrata'ayun selalu ada. Asalkan jangan lepas dan bosan tuk menyisipkan doa itu dalam setiap sujud panjang kita. Tak ada yang dapat menolak segala sesuatu yang telah Allah takdirkan padanya..Dan Allah Maha Tau yang terbaik bagi hamba-hambanya.
20 November 2013 @Drim Hill Palace
Langganan:
Postingan (Atom)







